Laporkan Penyalahgunaan

Arsip

Translate

1minggu1cerita
Blogger Perempuan

Uji nyali, naik ojek ke Curug Cinumpang, Kadudampit Sukabumi, Jawa Barat

Posting Komentar
     Di sekitar Taman Nasional Gunung Pangrango, di kawasan Kadudampit, ada air terjun atau Curug, Cinumpang namanya, terletak antara desa Gede Pangrango dan Sukamaju. Usai mengunjungi danau Situgunung, saya menggunakan ojek dari danau Situgunung di Taman Nasional Gunung Pangrango menuju Curug Cinumpang, yang menurut si tukang ojek berjarak sekitar 3 kilometer.  Biaya ojek pulang pergi 50 ribu, tak bisa di tawar. 

     Melewati pintu tiket, harus membayar 2500 rupiah, biaya masuk bumi perkemahan Cinumpang. Jalan menuju air terjun  lumayan jauh, jalan setapak sekitar 2 kilometer dari jalan mobil. Menyusuri ruas jalan berbatu, menuju jalan kecil, lantas menyeberang jembatan kayu dilanjutkan menyusuri jalan setapak di pinggir tebing. Kebanyakan orang berjalan kaki, namun jika sedang tak ingin mengayun langkah, atau di buru waktu seperti saya, banyak ojek lalu lalang menawarkan jasa mengantar ke lokasi terdekat curug Cinumpang.

     Ternyata, naik motor menuju curug Cinumpang bukan untuk mereka yang bernyali kecil. Medan yang dilewati motor sungguh bikin ngeri. Jika tak licin karena separuh berlumpur, maka berbatu dan naik turun bak arena motorcross. Batu-batu tempias ketika di gilas ban motor, dan beberapa kali ban motor nyaris bergeser tak terkendali. Makin dekat curug, jalan pun mengecil, lewat tikungan tajam, menyusuri tebing persis di samping jurang. Kanan tebing, kiri jurang, lebar jalannya kira kira tak sampai 1 meter. 
 
https://www.youtube.com/watch?v=tcz-Up7IB-w


Herannya, para tukang ojek yang lewat tak ada yang pelan, seolah mereka punya 9 nyawa. Saya bolak balik mengingatkan pak tukang ojek agar memelankan laju motor. Menurut pak ojek, kecepatannya sudah umum, bahkan ketika musim hujan, ia tetap membawa penumpang dengan kecepatan yang sama dan semua aman saja. 

     Ojek mengantar sampai kira kira 200 meter dari curug Cinumpang. Sesudahnya saya harus jalan kaki menyusuri jalan setapak yang menurun lewat hutan bambu. Sampai di bawah, melewati jembatan bambu usang di atas sungai yang bening, ada lapangan dimana sejumlah orang sedang berkemah. Terus berjalan ke arah kanan, tempias air dingin curug Cinumpang menyambut saya. Disekitarnya, wisatawan lokal dengan ceria bermain air, atau bergaya untuk foto dengan latar belakang air terjun Cinumpang yang tinggi dan deras. Di atas bebatuan pinggir sungai, beberapa penjual minuman keliling duduk santai. Di sudut lain, tak jauh dari toilet umum, seorang penjual cinderamata duduk sambil menjalin akar akar kecoklatan, membentuk cincin atau gelang yang menarik kerumunan pembeli. 

     Saya memilih merendam kaki dan berjalan-jalan di bagian sungai yang tak dalam. Tak lama menikmati suasana dan dinginnya air curug Cinumpang, mendung membuat saya bergegas kembali ke jalan setapak di atas sungai. Saya khawatir tak kuat nyali jika harus kembali berjoget dengan motor di jalan licin berbatu, di tengah hujan.

Pesiarsiar
Yumi, tukang pesiar yang suka menulis, membaca, menonton film dan bikin video. Potterhead garis keras. Alumni kampus biru Yogyakarta. Sekarang tinggal di Jakarta. Kemana-mana kalau bisa lebih pilih naik kereta. Suka warna senja.

Related Posts

Posting Komentar