Laporkan Penyalahgunaan

Arsip

Translate

1minggu1cerita
Blogger Perempuan

Tips Anti Parno saat Anak Sekolah Tatap Muka (Offline) ditengah Pandemi

3 komentar

 Halo para orangtua yang punya anak usia sekolah. Sudah siapkah menghadapi sekolah offline  yang akan segera diberlakukan pada tahun ajaran baru 2021/2022 Juli nanti? Apakah anda termasuk orang tua yang tak sabar anak-anak segera sekolah tatap muka seperti biasa ataukah termasuk orang tua yang was-was dan galau saat wacana sekolah tatap muka kemudian menjadi keputusan untuk dilaksanakan?

 Beberapa waktu saya ikut webinar tentang persiapan anak memasuki sekolah offline  yang digelar oleh PT Saras Subur Abadi  dengan narasumber dokter Wijayani Mardiana seorang dokter dan praktisi herbal Indonesia.

 Webinar  tersebut membahas apa yang jadi kegalauan sebagian besar orang tua  emak-emak atau bapak-bapak, ketika sekolah offline atau sekolah tatap muka mulai diwacanakan dan akan diberlakukan pada bulan Juli mendatang. Apalagi kalau bukan soal kesehatan dan keselamatan anak di tengah pandemi yang belum usai. 

 Dokter Wijayani Mardiana, M.Med (Praktisi Herbal Indonesia) dalam webinar ini pada awalnya membahas dan membandingkan mengenai apa keuntungan dan kerugian kalau anak sekolah online dibanding kalau sekolah offline atau sekolah tatap muka seperti yang sudah berlangsung selama setahun ini.

Keuntungan sekolah online yaitu: anak lebih bisa diawasi karena belajar di rumah selama pandemi hingga orang tua tidak terlalu was-was.

 
Sementara sekolah online kerugiannya yaitu:

  • Anak kurang berinteraksi dengan orang lain, lebih banyak mengandalkan gadget atau gawai
  •   Panca indera kurang  terpakai saat belajar, yang paling banyak dipakai adalah mata untuk menatap gawai. Indera peraba, penciuman dll kurang digunakan. Kurang “belajar secara fisik”.
  •  Anak kurang  gerak karena seharian belajar dengan gawai, saat istrahatpun kemungkinan akan menggunakan gawai lagi

Sedangkan keuntungan kalau sekolah tatap muka adalah:

  •  Anak lebih bisa banyak berinteraksi dengan orang lain. Melatih anak bagaimana berinteraksi dengan orang lebih tua, dengan anak yang lebih muda.
  • Anak belajar secara nyata, semua indra dirangsang. Misalnya bisa belajar di lab atau di luar ruangan, melihat  tanaman atau binatang secara langsung hingga bisa mempersepsi dengan dengan inderanya  dalam panduan guru
  • Melatih soft skill seperti berbagi dan empati
  • Melatih motorik dan kesehatan, karena di sekolah anak masih bisa lari-lari atau bermain juga. Ini bisa memperlancar metabolisme, peredaran darah, merangsang syaraf-syaraf hingga bisa bertumbuh lebih baik.
  • Menghindarkan anak dari ketergantungan pada gadget atau gawai

 

Nah meskipun jelas keuntungan sekolah tatap muka jauh lebih banyak dibanding sekolah online, namun saat wacana sekolah tatap muka akan kembali dilaksanakan di tengah pandemi, banyak orang tua yang was-was, takut anaknya terkena Covid-19.

Tetapi pada akhirnya nanti sekolah tatap muka mungkin tidak bisa dihindarkan lagi (pastinya dengan prokes yang ketat). Sementara pandemi atau penyakit mungkin masih mengintai.  Nah menghadapi sekolah tatap muka, apa sebaiknya yang harus dipersiapkan oleh para orang tua?

Menurut dokter Wijayani, ini yang sebaiknya dipersiapkan dan dilakukan oleh orang tua:

Pemahaman orang tua dan anak mengenai wabah

Anak harus tahu dan hapal apa itu 5 M yang banyak digaungkan selama pandemi covid-19 ini serta melakukannya dengan penuh kesadaran.

·       Apa itu 5 M :


1.       Memakai Masker

2.       Mencuci tangan

3.       Menjaga Jarak

4.       Membatasi Mobilisasi

5.       Menjauhi Kerumunan

·       Mengapa harus 5 M?

 Semua prosedur kesehatan diatas diberitahukan kepada anak-anak, dijelaskan alasan kenapa penting dilakukan dan harus dilakukan dengan disiplin, dimulai dari diri sendiri.  Bagi anak yang masih kecil mungkin harus dijelaskan dengan lebih rinci mengapa saat mereka sekolah tatap muka, belum bisa bermain dengan leluasa terutama dengan teman-teman sekolah.

 

Kesepakatan orang tua dengan sekolah dan atau guru

·      Bagaimana protokol kesehatan yang dilakukan?

 Harus jelas kesepakatan apa yang perlu dilakukan orang tua dan apa yang perlu dilakukan atau disiapkan oleh pihak sekolah. Dengan Komunikasi yang baik diharapkan tidak ada salah paham dan semua pihak bisa bekerja sama untuk kepentingan anak-anaknya.

·       Apakah guru dan tenaga pendidikan lain sudah divaksin?

Jika para guru dan tenaga didik lain sudah divaksin, tentunya kemungkinan mereka sakit dan menularkan pada anak-anak lebih kecil, hingga orang tua bisa lebih tenang.

·       Persiapan mental orang tua dan anak

-Paham bahwa wabah sedang terjadi, kita harus hati-hati

-Khawatir boleh tapi tidak perlu takut berlebihan sampai menimbulkan stress

-Batuk pilek tidak sama dengan atau belum tentu covid

-Demam tidak sama dengan covid

-Melatih empati pada anak-anak agar misalnya ada teman yang sakit terkenak covid-19 jangan dijauhi, tapi justru teman tersebut diperhatikan, misalnya didoakan atau dikirimi makanan.

-Anak harus paham bahwa untuk sementara mereka belum bisa berinteraksi seperti sebelum terjadi pandemi.

 

Apalagi yang harus disiapkan untuk menjalani sekolah tatap muka? Orang tua harus Persiapkan Anak agar saat sekolah tatap muka:

·   Membawa bekal makanan dan minuman sendiri untuk menghindari berbagi makanan minuman atau jajan sembarangan. Tidak berbagi bukan berarti pelit tetapi karena demi kesehatan bersama.

·     Membawa alat tulis sendiri. Tidak saling meminjamkan bukan berarti pelit tetapi pemakaian bersama kurang baik saat pandemi karena demi kesehatan bersama.

·      Ajari anak-anak etika bersin/batuk  dan cara cuci tangan yang benar

 

Ajari anak kapan harus cuci tangan, yaitu membiasakan anak agar selalu mencuci tangan dengan benar setiap kali:

  • Sebelum dan sesudah makan
  • Sebelum masuk sekolah dan ruang kelas 
  • Sepulang sekolah
  • Sesampainya di rumah

 

Persiapan Tubuh Anak. Bagaimana cara orang tua mempersiapkan agar tubuh anak fit saat memasuki sekolah tatap muka?

  • Tingkatkan daya tahan tubuh anak
  • Olahraga dengan rutin : terutama untuk anak-anak dalam masa pertumbuhan olah raga itu sangat-sangat penting. Harus kena matahari karena vitamin d dari makanan atau suplemen kalah jika dibandingkan yang langsung didapat dari sinar matahari. Harus kena panas dari matahari agar daya tahan tubuh terjaga. Olahraga juga membuat motorik anak lebih berkembang. Tubuh lebih besar dan kuat hinggalebih mampu atasi kuman.
  • Makan makanan bergizi seimbang.
  • Tidur siang  siang dan tidur malam berkualitas. Untuk anak-anak ada hormon pertumbuhan yang terpacu saat tidur siang.
  •  Suplemen makanan untuk tingkatkan daya tahan tubuh.

Gangguan kesehatan yang umumnya dialami anak-anak, misalnya ketika pergantian musim atau ketika bulan Juli awal masuk sekolah biasanya sudah panas, hujan sudah jarang. Anak –anak bisa mengalami gangguan pada kesehatan, misalnya:

  • Stress psikologis-  karena danya perubahan saat memasuki lingkungan dan kebiasaan baru.  Orang tua perlu paham dan perlu melakukan pendampingan pada anak, lakukan komunikasi dan biarkan anak bercerita tentang pengalaman selama di sekolah. Orang tua harus amati anak karena peran orang tua paling besar terhadap anak.
  • Panas Dalam – biasanya pada  musim panas. Herbal yang bisa dan sering digunakan untuk atasi panas dalam misalnya adalah menggunakan Luohanguo atau Krisan. Bisa direbus dan dijadikan minuman.
  • Nyeri tenggorokan/ batuk umum terjadi, boleh khawatir tapi jangan langsung panik karena tidak lantas pasti covid-19
  • Tubuh lelah/fatigue
  • Mata lelah bisa gunakan gojiberi untuk kesehatan mata. Gojiberi bisa diseduh bersama dengan Krisan untuk mengatasi panas dalam dan meningkatkan kemampuan penglihatan dan membuat lebih rileks. Kalau menurut penelitian terkini gojiberi juga punya banyak kandungan termasuk  kandungan antioksidan yang sangat berguna bagi tubuh.
  • Untuk anak-anak perempuan ada herbal yang bagus yang bisa mmemperlancar sirkulasi darah yaitu Tianqi/Sanqi alias Panax Notoginseng. Herbal ini juga meningkatkan daya tahan tubuh dan menurut penelitian memberikan perlindungan terhadap virus Influenza A.

Orang tua harus lakukan Monitoring atau pengawasan terhadap anak.

Nah setelah mempersiapkan keperluan sekolah, keperluan tubuh dan gizi juga suplemen atau obat termasuk herbal, apalagi yang perlu dilakukan oleh orang tua terutama terkait dengan sekolah tatap muka di tengah pandemi?

  • Amati apakah ada tanda-tanda tidak wajar pada anak?
  • Aktivitas anak. Apakah anak tampak letih/lesu? Nafsu makan anak bagaimana?
  • Psikis anak bagaimana, apakah ia ceria atau malah tampak tertekan?
Bagaimana cara orang tua mengamati? Komunikasilah dengan anak setiap hari. Tanyai kesehariannya:
  • Bagaimana di sekolah?
  • Bagaimana teman-temannya?
  • Bagaimana perasaan anak?
  • Beri pengertian terus menerus tentang situasi sekolah di tengah pandemi dan bagaimana agar bisa tetap sehat.

Dengan berkomunikasi dengan anak, orang tua bisa langsung tahu mengenai keadaan di sekolah, apakah anak menjaga jarak, apakah ada teman anak yang sakit, apakah anak happy  di sekolah. Dengan demikian orang tua bisa melakukan langkah-langkah pencegahan, antisipasi atau langkah proaktif lainnya. Jika sudah bagus, bisa dilanjutkan yang sudah berlangsung di sekolah.

·  Komunikasikan pengamatan orang tua dengan pihak sekolah jika dalam pengamatan ada yang tidak wajar, hingga bisa dilakukan langkah-langkah yang tepat sedini mungkin. 

    Demikian catatan saya dari webinar tersebut, untuk panduan bagi saya sendiri dan juga orang tua lain dalam menyambut sekolah tatap muka. Semoga bermanfaat yaa.

 

 

 

 

 

 

Pesiarsiar
Yumi, tukang pesiar yang suka menulis, membaca, menonton film dan bikin video. Potterhead garis keras. Alumni kampus biru Yogyakarta. Sekarang tinggal di Jakarta. Kemana-mana kalau bisa lebih pilih naik kereta. Suka warna senja.

Related Posts

3 komentar

  1. Saya bookmark postingan ini.. karena anak saya baru masuk sekolah tahun ini. Saya deg-degan juga, apalagi masih pandemi.. terimakasih infonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga sudah mampir blog saya. Namanya orang tua tuh pasti khawatir ya apalagi kalau anak yang sekolah masih kecil banget. Tapi anak kurang teman kasian juga, jadi galau kita.

      Hapus
  2. Duh, Mbaaak. Makasih banget oleh-oleh webinarnyaaa.
    Saya juga mendaftarkan anak saya sekolah TK A tahun ini, dan duh masya Allah deg-degan.
    Tapi sebenarnya udah engga tahan pengen nyekolahin tatap muka,
    sebab usia anak saya kan lagi sensitif interaksi sosial.
    Jadi kasian banget kalo engga pernah interaksi sama sebayanya.
    Makasih banget, Mbak. Sekarang saya tahu harus persiapan apa aja.

    - Muna (BloggerCrony)

    BalasHapus

Posting Komentar